Tak Mampu Bayar Iuran Sekolah, Seorang Murid Di Gresik Bawa Kursi Dari Rumah

Selasa, 23 Agustus 2011
Tak Mampu Bayar Iuran Sekolah,
Seorang Murid Di Gresik Bawa Kursi Dari Rumah


Andika Imam Taufiq (9) warga Barat Sungai, Kotakusuma Sangkapura terpaksa membawa kursi plastik setiap ke sekolah SDN Kotakusuma Kecamatan Sangkapura Pulau Bawean. Ini karena dia tak sanggup membayar "biaya kursi" yang diwajibkan pihak sekolah.
Andika Imam Taufik, siswa SDN Kotakusuma membawa kursi plastik sendiri ke sekolah karena tak mampu membayar uang kursi Rp 55.000 yang ditetapkan pihak sekolah.

Guru wali kelasnya melarang siswa kelas III ini bersekolah jika tidak mampu membayar iuran beli kursi sebesar Rp 55 ribu. Karena tetap ingin sekolah, akhirnya Taufik dibelikan ibunya, Musnada (35) sebuah kursi plastik yang setiap pagi terpaksa ditentengnya ke sekolah.

Ironisnya peristiwa ini terjadi di saat Bupati Gresik, Sambari dan Wabup HM Qosim selama 3 hari berada di pulau yang berjarak 81 mil dari Gresik.

Musnada menceritakan, memasuki tahun pelajaran baru Andika Imam Taufiq sebagai siswa ICP (Internasional Class Programme) sesuai ketentuan sekolah diharuskan membayar biaya sebesar Rp 324 ribu tetapi itu tidak termasuk biaya beli kursi sebesr Rp 55 ribu.

Karena Taufik tidak membayar Rp 55 ribu, wali kelasnya melarang masuk kelas dengan alasan tidak ada kursi baginya. Begitu mendapat keluhan anaknya, Musnada langsung membelikan kursi palstik di pasar. “Meski kondisi keuangan saya tidak mampu, tetapi saya paksakan belikan kursi untuk menyekolahkan anak,” katanya dikutip Surya.co.id, Senin (25/7/2011).

Sedangkan Ana Lutfiyah, kakak Taufik, tahun ini masuk MTs Umma. Namun seluruh keperluan sekolah Ana, sudah ditanggung Fatimah, kasek MTs Umma sehingga Musnada tidak memikirkannya. “Tetapi menanggung biaya pendidikan Andika Imam Taufiq saya merasa kesulitan, karena kondisi ekonomi yang serba kekurangan,” ujarnya.

Musnada yang asal Pemalang Jawa Tengah, ditinggal meninggal suaminya 2 tahun lalu. Saat ini, dia harus bekerja sendiri sebagai penjual jamu dan bakso.

Sementara itu, Hadi Suwoyo Kepala SDN Kotakusuma mengaku, belum memutuskan program kerja sebab dirinya baru saja dilantik sebagai Kepala SDN Kotakusuma. Sehingga semua program, adalah kebijakan kepala sekolah lama. “Bila ada kejadian siswa tidak mampu disuruh mengeluarkan biaya pendidikan, seharusnya kebijakan tersebut perlu dievaluasi kembali,” katanya.

Menurut Hadi Suwoyo, siswa kurang mampu semestinya mendapat keringanan khusus dalam pembiayaan di sekolah, sesuai tujuan pemerintah dalam mencerdaskan bangsa. “Akan dirapatkan bersama dewan guru, untuk mengevaluasi semua program di SDN Kotakusuma,” terangnya.[intermezonews.blogspot.com]

0 komentar:

Poskan Komentar